Review film “Pertaruhan”

pertaruhanHari minggu kemarin, saya dan beberapa teman dari blogor mendapat kesempatan untuk menonton film dokumenter hasil kerja sama antara Kalyana Shira Films dengan Kalyana Shira Fondation, yang berjudul Pertarungan. Film ini adalah kumpulan dari 4 film dokumenter yang bercerita tentang perempuan dan kontroversi tentang tubuh perempuan.
Film yang pertama yang berjudul “Mengusahakan Cinta” bercerita tentang kisah 2 Tenaga Kerja Wanita asal Indonesia yang bekerja di Hongkong. Mereka memilih untuk menjadi buruh migran di Hongkong, karena mereka merasa pendapatan yang mereka dapatkan dengan menjadi buruh migran di negeri orang jauh lebih besar dari pada mereka bekerja di Indonesia. Kisah pertama adalah tentang Ruwati, seoarang pembantu rumah tangga. Ia memiliki tumor di dalam rahimnya, yang mengakibatkan ia harus menjalani operasi melalui vaginanya, untuk mengambil tumor tersebut, tanpa perlu mengangkat rahimnya. Karena sebenarnya ia masih gadis. Namun ternyata kekasihnya di Indonesia malah mempertanyakan kegadisannya dengan adanya hal ini.
Kisah ke dua adalah tentang Rian. Seorang pengasuh dari seorang wanita jompo di Hongkong. Ia menjadi Lesbian setelah mengalami kegagalan dalam rumah tangganya. Dan mendapat siksaan batin serta moral dari mantan suaminya. Ia nyaman sebagai lesbian di Hongkong, namun ia merasa takut untuk membawa hubungan lesbiannya tersebut ke Indonesia.

Film kedua berjudul “Untuk Apa?” bercerita tentang praktek sunat pada perempuan di Indonesia. Terjadi perbedaan cara dan konteks dalam pelaksanaan praktek sunat perempuan ini. Sebagian besar mengatakan, bahwa sunat untuk perempuan ini ditujukan untuk “membersihkan” anak perempuan dari sipit setan yang akan mengarahkannya menjadi liar. Padahal belum ada bukti dari pernyataan tersebut. Terlebih, pelaksaannya yang berbeda2 dan bahkan membuat trauma bagi beberapa orang yang melakukannya. Dalam pelaksanaannya, ada yang langsung disunat ketika lahir, dan ada pula yang baru disunat menginjak usia belita atau lebih tua lagi. Perbedaan konsep dan kepercayaan tentang praktek sunat perempuan ini lah yang diangkat dalam film ini.

Di Indonesia, yang dikatakan sebagai wanita lajang adalah wanita yang belum/tidak menikah dan tidak melakukan hubungan seksual. Hal ini lah yang menjadi sebuah kerancuan ketika seorang akan memerikasakan kesehatan dirinya pada pihak obstetri dan ginekologi / SpOG (kebidanan dan kandungan). Seorang wanita lajang yang memerikasakan kesehatan alat reproduksinya sering kali terbentur persepsi moral yang dituduhkan oleh para obstetri dan ginekologi / SpOG (kebidanan dan kandungan). Seperti misalnya, pemeriksaan pups meer untuk mengecek saluran reproduksi pada wanita, apakah terdapat kelainan yang mungkin dapat mengakibatkan kanker sevics (kanker mulut rahim). Pada pemeriksaan pups meer ini, akan dimasukan sebuah alat pada vagina pasien. Untuk mengambil cairan pada rahim pasien. Dan dalam pelaksanaannya, tentunya pemasukan alat periksa ini kedalam vagina dapat mengakibatkan robeknya selaput dara pada seorang wanita yang belum pernah melaukan hubungan seks. Hal ini lah yang dijadikan alibi bagi para obstetri dan ginekologi / SpOG (kebidanan dan kandungan) untuk tidak melakukan pups meer pada wanita lajang. Padahal jika ditilik dari gaya hidup masyarakat kita terlebih di kota besar, banyak wanita lajang yang sudah pernah melakukan hubungan seks pra nikah. Dan tentunya mereka juga ini juga memiliki resiko untuk terkena kanker servics. Dan statusnya sebagai “nona” (belum menikah) membuatnya menjadi seakan2 langsung divonis bersalah olah obstetri dan ginekologi / SpOG (kebidanan dan kandungan), karena mereka ini telah melakukan hubungan seks pra nikah. Masalah ini lah yang diangkat dalam film ketiga ini yang berjudul “Nona Nyonya?”.

Dan sebagai film terakhir adalah film berjudul “Ragat’e Anak”. Fim ini mengisahkan tentang 2 orang PSK di kompleks pekuburan cina di daerah Gunung Bolo, Tulungagung yang berjuang menghidupi dirinya dan keluarganya. Setiap pagi hingga menjelang sore, mereka bekerja sebagai pemecah batu dan pada malam harinya mereka bekerja sebagai PSK. Tempat beroperasinya yang adalah di kompleks pekuburan cina, membuat tarifnya menjadi amat murah. Selain itu, adanya preman2 di kawasan kompleks pekuburan ini juga menambah sulit kehidupan mereka.

Keempat film dokumenter ini adalah karya2 kolektif, hasil dari Workshop Project Change 2008. Film pertama, “Mengusahakan Cinta” disutradarai oleh Ani Ema Susanti, seorang mantan buruh migran di Hongkong. Ini bukanlah film dokumenter pertama yang ia buat, karena sebelumnya, ia juga pernah membuat film dokumenter berjudul “Helper Hongkong Ngampus” yang adalah salah satu finalis Eagle Awards, sebuah festival film dokumenter yang diadakan oleh Metro TV.
Film kedua, “Untuk Apa?” disutradarai oleh Ucu Agustin, seorang penulis lepas dibidang Jurnalistik dan penulis script dokumenter. Sebelum menggarap film ini, ia pernah membuat script dan film dokumenter pendek berjudul “Death in Jakarta” yang telah memenangkan JIFFEST Script Development Competition di tahun 2005.
Film ketiga, “Nona Nyonya?” disutradarai oleh Iwan Setiawan dan Muhamad Ichsan. Iwan Setiawan dalam kesehariannya bekerja di salah satu statsiun TV swasta, dan pernah menang di FFI 2004 dengan film dokumenternya yang berjudul “Illegal Logging di Hutan Konservasi Indonesia”. Sedangkan Muhamad Ichsan, pernah menjadi editor film di tahun 2002 dan kemudian beralih ke bagian produksi film sebagai art director dan asisten sutradara dari beberapa film nasional seperti “Garasi”, “Ungu Violet” dan “GIE”.
Dan film terakhir, “Ragat’e Anak” disutradarai oleh Lucky Kuswandi. Ia sangat fikus dalam usahanya sebagai pembuat film. Sebelum ini, ia juga telah menbuat bebrapa film seperti “Still” (2005), “Black Cherry” (2005) dan yang terakhir “A Letter of Unprotected Memories” (2008) telah diputar di berbagai festival film internasional.

Dari keempat film ini, dari segi pengambilan gambar, saya pribadi (sebagai seorang yang awam dalam usaha pembuatan film) menyukai film ketiga, yaitu “Nona Nyonya?” karena setiap scene-nya memiliki gambar dan penuturan yang jelas. juga pemberian warna pada beberapa scene yang menggunakan kamera tersembunyi membuat gambar tidak menjadi terlalu menjenuhkan. Karena biasanya, gambar yang didapat dari kamera tersembunyi ini banyak goyangan dan gambar yang statis juga kurang jelas. dengan adanya pemberian warna2 yang berbeda ini membuat gamabar yang statis dan kurang jelas itu menjadi “sesuatu” yang tidak membosankan.
Sedangkan dari cara penceritaan (cara bertutur), saya (lagi2 sebagai orang yang awam) menyukai film “Mengusahakan Cinta”. Sebagai pencinta film drama, tentunya film dokumenter ini menjadi pilihan saya, karen unsur drama yang diumbar dalam film ini amat menarik dan menyentuh untuk saya. Meskipun memang agak “geli” melihat adegan2 percintaan antara 2 orang lesbian. Yah, di Indonesia hal ini kan tidak bisa dibilang lumrah juga.
Untuk film kedua yang berjudul “Untuk Apa?” ide cerita yang diangkat memang sangat menarik dan tentunya cukup menggelitik rasa keingintahuan saya sebagai perempuan. Terlebih mengenai vonis dari beberapa kelompok masyarakat yang ditampilkan daam film ini, bahwa setiap perempuan yang tidak di suanat akan menjadi perempuan yang “liar”di masa dewasanya. Juga perbedaan pendapat dari para ahli baik dari segi agama maupun kesehatan, ada yang menyetujui akan praktek suanat perempuan ini, dan ada juga yang justru malah menentang adanya praktek sunat ini.
Di film keempat, yang berjudul “Ragat’e Anak” ini adalah potret perekonomian masyarakat kecil di Indonesia. Betapa sulitnya untuk bertahan hidup dan menghidupi keluarga dalam keadaan perekonomian negara yang tidak dapat dikatakan sejahtera ini. Mahalnya biaya pendidikan, harga kebutuhan pokok yang kian melambung, serta kurangnya penghargaan manusia kan manusia lainnya.

Dari keempat film ini, semuanya menceritakan tentang tidakan deskriminatif masyarakat terhadap perempuan. Sayangnya hal ini terlalu mengakar dari mulai tradisi lokal, pengaruh agama sampai nilai2 ‘moral’ yang selalu dikatakan untuk melindungi posisi perempuan. Hal ini lah yang dikemukakan di film “Pertaruhan” ini. Yang diharapkan dapat merubah posisi perempuan, agar dapat perempuan juga dapat memiliki hak-hak dasar yang sama dengan pria.

Gambar diambil dari sini secara semena2…:mrgreen:

Posting terkait :

1. http://ankabaik.com/2009/04/22/blogor-nonton-pertaruhan/

2. http://suyamtofajar.wordpress.com/2009/04/20/pertaruhan/

13 thoughts on “Review film “Pertaruhan”

  1. Ralat dikit: pemeriksaan itu namanya pap smear.

    Ceritanya miris, mengingatkan bahwa perempuan masih belum sepenuhnya memiliki hak atas tubuhnya sendiri.😥

  2. @ kang achoey : iya… baru… refreshing aja…

    @ Bunda : umm… yang mana bun?? *lupa ingatan*

    @ dita : oh iya… lupa diralat… thx ya dit…🙂 yah, miris banget sih, tapi yang penting kan gimana kita-nya sebagai wanita dalam menghadapi kenyataan ini… *ngemeng apa sih??*

    @ anka : kan udah di blog mu bukan?? *dasar!!!*

  3. @ kang achoey : nyariin saya kang?? kenapa?

    @ ferry : siaul lo! ya iya lah… gw gitu loh…😀 emang elo… punya blog tapi ga diurus! hahahaha…

    @ angga : ah, lo nge-fans sama ga ya? dulu pas gw pake yg pink, lo pake pink juga, sekarang ngikutin lagi… duh, susuh deh emang yg lagi niti karier mah…:mrgreen:

  4. ulasan yang menarik.
    wempi sudah nonton ini (kalo gak salah) di metro tv / tv one.

    Mengusahakan Cinta-Ruwati, wajar saja seorang lelaki menanyakan kegadisan seorang wanita (begitu juga sebaliknya), kalo ada hal-hal tertentu seperti karena tumor di atas, perlihatkan saja catatan medis hal tersebut ke si lelaki. kalo si lelaki masih mempermasalahkan hal kegadisan, wah… tinggalin aja tuh cowok (tuh cowok cuma butuh kegadisan dari pada cinta seutuhnya), banyak kok lelaki yang sudah berpendidikan dan mengerti dan mau menerima apa yang sebenarnya kegadisan itu — bukan sekedar keluar darah pada hubungan pertama.

    Mengusahakan Cinta-Rian, menjadi lesbian hanya karena gagal dalam rumah tangga adalah jalan keluar paling tolol yang pernah wempi dengar dan saksikan. wempi berharap selamanya di indonesia tidak boleh yang namanya lesbian dan gay. apakah ibu dah pernah baca tafsir alqur’an mengenai kaum pecinta sejenis (kaum ud) yang didatangkan bencana kepada mereka. firman tersebut rasanya sudah cukup jelas bagaimana penilaian Allah swt terhadap lesbian dan gay. http://id.wikipedia.org/wiki/Luth

    Untuk Apa? mestinya ditilik dari unsur agama, ritual dan kesehatan. Islam mewajibkan sunat untuk lelaki, sedangkan perempuan.
    Rasululloh Shallallahu alaihi wa Salam bersabda kepada tukang khitan wanita (Ummu A’Thiyyah), yang artinya: “Janganlah kau potong habis, karena (tidak dipotong habis) itu lebih menguntungkan bagi perempuan dan lebih disenangi suami.” (HR: Abu Dawud )

    Pap Smear, dalam KBBI lajang=belum kawin, wempi kira tindakan dokter tersebut sudah benar. Sebaiknya yang terlibat dalam proses pembuatan film tersebut ambil kursus dulu menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar (bilang ‘saya masih single dok’, hehehe). Blon lagi kalo ditilik dari segi moral dan etika profesi dokter.
    http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi

    Ragat’e Anak, ini juga tindakan tolol dalam memenuhi kebutuhan hidup. apa ibu sudah pernah nonton kisah di kota payakumbuh sumatera barat, seorang wanita dengan anaknya yang buta berjalan keliling kota payakumbuh sejauh 50km berjualan sapu lidi setiap hari untuk kebutuhan hidup, bagi mereka haram untuk mengemis, apalagi melacur. kalo belum nonton silakan baca buku kumpulan kisah inspiratif kick andy.

    jadi menurut wempi, film ini tidak memberikan nilai moral positif bagi penontonnya. film ini mengarahkan penonton memandang dari ‘sudut pandang yang salah’. coba cerna lebih dalam dan lihat sekeliling, sebegitunyakah ‘sebagian besar’ wanita di indonesia.

    kadang wempi heran, ingin sebebas apa sih wanita di dunia ini, wempi coba lihat di sekeliling wanita bebas kok. bahkan jaman dulu seperti tjut nyak dien, siti manggopoh, christina martha tiahahu bisa jadi pemimpin.

    jangan seperti kartini “mohon maaf”. http://www.acehkita.com/berita/pendapatkartini-dan-tengkulak-nasionalisme/

    heheh… hanya pendapat wempi pribadi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s