Ketika Cinta Bertasbih (my review)

Ahaaaiiiii… udah lama banget saya gak posting di blog saya ini… abis bingung mau nulis apa… sama agak sibuk juga sih mengerjakan suatu hal yang mungkin akan cukup berpengaruh terhadap hidup saya selanjutnya… apa itu? ga akan saya bahas disini (jadi kalaupun nanti ada yg nanya *GR aja deh gw* saya ga akan jawab). Postingan kali ini pun saya kerjakan di sore hari di suatu tempat yang seharusnya telah saya tinggalkan dari setadi siang, hanya saja saya mengulur-ulur waktu terus hingga akhirnya saya terjebak hujan besar dan kedinginan tiada tara di sini *lebay sangath deh*

kali ini saya mau cerita tentang pengalaman dan pendapat saya juga sedikit review tentang film yang sekarang lagi hoboh gitu deh di Indonesia… yupsi, apa lagi kalau pukan KCB a.k.a Ketika Cinta Bertasbih. iya sih tau, postingan kemaren juga tentang review film, tapi gpp dong kalo sekarang review film lagi… ga ada salahnya toh?

Jadi Sabtu kemarin (13/06) saya dan teman-teman saya ditraktir oleh seorang sahabat saya yang berulang tahun beberapa hari sebelumnya… awalnya sih saya ga mau nonton KCB karena saya belum selesai baca buku-nya… tapi ternyata teman-teman saya yg lain memaksa untuk nonton, jadi dengan terpaksa jumpat malan saya berusaha menyelesaikan membaca buku KCB-nya hingga tuntas (tapi ada beberapa bagian yg saya baca secara skimming aja… abis kebanyakan cerita soal latar sih… kan jadi bosen…

Kesan saya dari film KCB ini adalah… Sinetron Banget!!! ga pas lah dengan promosinya yg bilang bahwa ini adalah sebuah mega film… jujur saya kecewa banget sama akting para pemerannya utamanya… yg katanya merupakan hasil audisi dari 8 kota di Indonesia… yah, sebagai orang awam tentunya saya mengharapkan akting yang bagus, menarik dan pas dari para pemenang audisi ini dong… tapi apa yg saya dapat saksikan di film KCB ini ternyata hanya akting sekelas sinetron Indonesia biasa yg marak di TV nasional. yang aktingnya saya anggap bagus hanya Alice Norin yang notabene adalah artis sinetron yang sudah cukup terkenal.

Yang paling mengecewakan justru pemeran Furqon (ANDI ARSYIL RAHMAN PUTRA) yang disini malah jadi terkesan sangat cengeng dan lemah sebagai seorang pria… ya saya tau ceritanya dia memang mengalami hal yang sangat menyedihkan, tapi sebagai pria seharusnya dia bisa sedikit lebih tabah kan?? ketika adegan Furqon sedang bercerita tentang seorang gadis yang sedang ia tunggu jawaban lamarannya kepada Azzam pun, aktingnya menurut saya terlalu berlebihan emosinya… istilah jaman sekarang mah, lebay gitu…😀 padahal kalau saya baca dari bukunya keknya Furqon ga se cengeng, selemah dan se-lebay itu deh…

Kalau untuk pemeran Azzam (M. KHOLIDI ASADIL ALAM) dan Anna (OKI SETIANA DEWI) saya juga ga terkesan sama aktingnya… saya pikir mereka-mereka ini masih harus digali lagi deh bakat aktingnya… *sotoy banget deh, mending dirinya sendiri bisa!! haha…😀 *

Kelebihan dari film ini menurut saya cuman penggambaran negara Mesir yang digambarkan sangat indah… kalu soal cerita sih ya, sama lah sama yang ada di buku… cukup menarik, meski ga seromantis drama Korea… *halah, perbandingan yang aneh*

yah, kecewa sih nonton film ini… tapi gpp deh, toh ga keluar uang juga, kan ditraktir…😀

Sekian saja postingan kali ini, soalnya udah berenti nih ujannya, mau pulang deh saya…😀 see you all, letter…

11 thoughts on “Ketika Cinta Bertasbih (my review)

  1. Wah, Ismi bikin jadi gak semangat nonton nih.
    Dulu pas AAC, aku termasuk yang nonton filmnya dulu, baru baca novelnya. Mungkin kali ini untuk KCB juga bakal gitu. Atau mungkin cukup baca2 resensinya aja.
    Klo menurutku, tips nonton atau baca buku fiksi yang jelek sekalipun, buat kita netral dan rileks saja, tanpa beban mesti menganalisis bagus gaknya atau beban harapan yang berlebihan (bahwa karya itu harus bagus). Tapi ini memang agak susah.

  2. Saya udah nonton filmnya, tapi sangat kecewa. Dari segi sinematografi menurut saya sangat jelek. Saya kayak lagi nonton sinetron, ditambah lagi pake bersambung segala, jadi tambah mirip sinetron. Kalau pesan dari filmnya sih memang bagus bgt, cumansayang tidak didukung dengan sinematografi yang baik. Padahal biaya pembuatan filmnya sangat besar.

  3. @ teh ocha : Tentu saja… ini opini saya, opini dari teh ocha kan beda lagi ya… saya udah baca kok…🙂

    @ om awam : ahahahaha… maap om, gak maksud loh…😀 iya memang sulit kalo bikin film yang merupakan adaptasi dari sebuah buku… sepertinya lebih mudah kalo bikin buku yang diadaptasi dari skenario film ya? *sotoynya kumat*

    @ kang Achoey : ngarep deh!!!😛

    @ Feri : setuju!!!😀

    @ miftah : saya sih kalo yang namanya nonton mah hatu aja, asal jadwalnya cocok…😀

  4. Segala sesuatu pasti ada kelebihan dan kekurangannya, namun menurut hemat saya, film KCB ini yang sangat sarat nilai, paling tidak di tengah gempuran film-film bergenre horor dan lainnya. Film seperti ini, kalau menurut hemat saya, sangat bermanfaat dan bernilai bagi bangsa ini yang haus akan figur teladan khususnya dalam dunia perfilman.

    memang sudah selayaknya, sebuah film dapat membawa pesan moral yang dapat membawa penontonnya ke arah kehidupan yang lebih baik. Walaupun mungkin bagi sebagian orang, alur ceritanya terkesan monoton. Namun, apapun penilaiannya mudah-mudahan perfilman di Indonesia semakin maju.
    Pasang Iklan Gratis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s