The Day We Finally Meet : Tonight with Lee Seung Gi in Jakarta

image

Akhirnya nge-blog lagi~~ \(^0^)/ hahahaha.. setelah sekian lama membiarkan blog ini berjamur, bulukan dan dipenuhi ramat, akhirnya saya nulis disini lagi. Semua berkat si akang akoh yg berasal dari Korea yg baru aja menggelar fan meeting di Jakarta, Lee Seung Gi 😀

Continue reading “The Day We Finally Meet : Tonight with Lee Seung Gi in Jakarta”

Missjutek’s Journey : Korea-Indonesia Week 2010 (part 2)

Hallo hallo… *masih tetep dengan gaya Shinee* saya balik lagi disini, masih dengan rangkaian cerita Korea-Indonesia Week 😀 *jangan bosen yaaa…* seperti janji saya di postingan sebelumnya… Kali ini yang akan saya ceritakan acalah acara K-Pop Singing and Dance Competition yang berlangsung di Central Park, Jakarta Barat hari Jumat Tanggal 15 Oktober 2010.

Acara ini diselenggarakan di tengah acara Korea Winter Travel and Medical Tourism Fair yang diselenggarakan pada tanggal 11 – 17 Oktober 2010. Ada 15 finalis untuk K-Pop Singing contest dan 15 finalis lagi untuk Dance Competition. Mereka tampil berselang-seling selama acara berlangsung (dari pukul 17.30 sampai 20.30). Disela penampilan 30 finalis tersebut ditengah dan sebelum pengumuman pemenang, ada penampilan B-Boy dan Martial Arts yang langsung diimpor dari Korea. Continue reading “Missjutek’s Journey : Korea-Indonesia Week 2010 (part 2)”

Missjutek’s Journey : Korea-Indonesia Week 2010 (part 1)

Hwaaaa… kelamaan hiatus nih dari blog… hihihihi… Hello hello… *dengan gaya Shinee* Lama nian saya meninggalkan blog ini begitu saja… ga ada alas an khusus sih kenapa menghilang, yah tau-tau menghilang aja… tiba-tiba ga mood buat nulis apa-apa padahal banyak banget hal yg seru yang terjadi di hidup saya. Pelan-pelan akan coba saya runut di postingan perikutnya deh ya… *kalo nggak males 😛 *

Di postingan kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman saya mengikuti rangkaian acara Korea-Indonesia Week 2010. Nggak semua rangkaian acara saya ikutin sih… Cuma 3 rangkaian acara aja yg saya datangi. Pertama Korea-Indonesia Friendship Festival Concert (KIFF concert) di Tennis Indoor Senayan, lalu K-Pop Singing and Dancing Competition di Central Park, Jakarta *tenang, saya bukan jadi peserta kok 😛 *dan Festival Makanan Korea Gandaria City, Jakarta. Untuk yg Movie Festival-nya tadinya mau dateng juga, secara saya kan memang movie freaks gitu kan ya… hihihihi… tapi nggak jadi karena acaranya malem dan ga ada yg mau nemenin saya nonton film Korea… hiks hiks… 😥 Continue reading “Missjutek’s Journey : Korea-Indonesia Week 2010 (part 1)”

Review : Garuda di Dadaku

Ahay… saya balik lagi… kali ini dengan review film lagi… 😀

Kali ini karena menyambut liburan anak sekolah, saya me-review film Indonesia yang cocok buat ditonton anak-anak sekolah yang lagi liburan. Film liburan yang cocok untuk keluarga…

garuda

Film Garuda di Dadaku bercerita tentang perjuangan Bayu, seorang anak laki-laki berumur 13 tahun yang tergila-gila banget sama sepak bola. Meski pun sudah dilarang keras oleh kakeknya buat maen sepak bola, bayu tetap sering curi-curi waktu untuk kabur dan maen sepak bola di lapangan bulutangkis dekat rumahnya. Ga heran sih kalo Bayu tumbuh menjadi anak yang sangat suka bermain sepak bola, Ayah Bayu sendiri adalah mantan pemain sepak bola.

Bayu mempunyai seorang sahabat, yang sama-sama tergila-gila dengan sepak bola, yaitu Heri. Sayangnya Heri memiliki keterbatasan fisik, sehingga ia tidak dapat secara langsung bermain sepak bola, tapi ia sangat jago dalam taktik permainan. Heri adalah seorang sahabat yang sangat mendukung keinginan Bayu untuk menjadi seorang pemain sepak bola, terlebih untuk masuk ke dalam tim nasional sepak bola Indonesia U-13, dan mengenakan seragam tim-nas dengan lambang garuda di dada sebelah kiri.

Cerita yang disajikan sebenarnya sederhana saja… tapi menarik dan memotivasi. Ada “sesuatu pesan” yang akan penonton bawa pulang setelah menontonnya… terutama untuk penonton anak-anak usia sekolah *sebenarnya buat yang dewasa-nya juga bisa sih*. Cerita yang sederhana, namun karena penggarapannya baik sehingga menjadikan film ini sangat menarik untuk disimak. Dengan naskah skenario yang bagus diikuti oleh akting yang bagus pula dari para pemainya, membuat film ini terasa lengkap. Ada tawa lucu, drama mengharukan serta aksi permainan sepak bola yang menarik.

Dari segi gambar juga OK, penonton banyak disuguhi aksi permainan sepak bola yang ciamik. Untuk adegan lain selain aksi sepak bola, pengambilan gambar juga cukup baik… yah, paling tidak saya ga melihat ada adegan yang digambarkan terlalu aneh.

Untuk kekurangan, buat saya sih cuman dari segi fashion-nya Bayu… dari awal film, Bayu selalu dikasih pakaian yang terlalu kebesaran… dan bikin badannya bayu yang kecil itu semaikn terlihat kecil aja. Ya, ngerti sih namanya maen sepak bola ga mungkin pake baju yang terlalu nge-pas juga… tapi ya jangan sampe yang terlalu longgar juga kan? Rada ganggu aja gitu litany… 😀 *saya doang yang riwil ini aja sih keknya yang merasa terganggu dengan hal ini* Baju yang paling “ganggu” adalah seragam sekolah Bayu yang amat-sangat-kegedean-banget-sekali!

But over all, film ini memang bagus banget! Kalo saya boleh kasih bintang untuk me-rating film, film Garuda di Dadaku ini saya kasih 4 ½ bintang dari 5 bintang yang biasanya tersedia. Yang pasti, film ini jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhh lebih bagus dari film KCB yang sebelumnya udah saya saksikan juga.

Ketika Cinta Bertasbih (my review)

Ahaaaiiiii… udah lama banget saya gak posting di blog saya ini… abis bingung mau nulis apa… sama agak sibuk juga sih mengerjakan suatu hal yang mungkin akan cukup berpengaruh terhadap hidup saya selanjutnya… apa itu? ga akan saya bahas disini (jadi kalaupun nanti ada yg nanya *GR aja deh gw* saya ga akan jawab). Postingan kali ini pun saya kerjakan di sore hari di suatu tempat yang seharusnya telah saya tinggalkan dari setadi siang, hanya saja saya mengulur-ulur waktu terus hingga akhirnya saya terjebak hujan besar dan kedinginan tiada tara di sini *lebay sangath deh*

kali ini saya mau cerita tentang pengalaman dan pendapat saya juga sedikit review tentang film yang sekarang lagi hoboh gitu deh di Indonesia… yupsi, apa lagi kalau pukan KCB a.k.a Ketika Cinta Bertasbih. iya sih tau, postingan kemaren juga tentang review film, tapi gpp dong kalo sekarang review film lagi… ga ada salahnya toh?

Continue reading “Ketika Cinta Bertasbih (my review)”

Review film “Pertaruhan”

pertaruhanHari minggu kemarin, saya dan beberapa teman dari blogor mendapat kesempatan untuk menonton film dokumenter hasil kerja sama antara Kalyana Shira Films dengan Kalyana Shira Fondation, yang berjudul Pertarungan. Film ini adalah kumpulan dari 4 film dokumenter yang bercerita tentang perempuan dan kontroversi tentang tubuh perempuan.
Film yang pertama yang berjudul “Mengusahakan Cinta” bercerita tentang kisah 2 Tenaga Kerja Wanita asal Indonesia yang bekerja di Hongkong. Mereka memilih untuk menjadi buruh migran di Hongkong, karena mereka merasa pendapatan yang mereka dapatkan dengan menjadi buruh migran di negeri orang jauh lebih besar dari pada mereka bekerja di Indonesia. Kisah pertama adalah tentang Ruwati, seoarang pembantu rumah tangga. Ia memiliki tumor di dalam rahimnya, yang mengakibatkan ia harus menjalani operasi melalui vaginanya, untuk mengambil tumor tersebut, tanpa perlu mengangkat rahimnya. Karena sebenarnya ia masih gadis. Namun ternyata kekasihnya di Indonesia malah mempertanyakan kegadisannya dengan adanya hal ini.
Kisah ke dua adalah tentang Rian. Seorang pengasuh dari seorang wanita jompo di Hongkong. Ia menjadi Lesbian setelah mengalami kegagalan dalam rumah tangganya. Dan mendapat siksaan batin serta moral dari mantan suaminya. Ia nyaman sebagai lesbian di Hongkong, namun ia merasa takut untuk membawa hubungan lesbiannya tersebut ke Indonesia.

Film kedua berjudul “Untuk Apa?” bercerita tentang praktek sunat pada perempuan di Indonesia. Terjadi perbedaan cara dan konteks dalam pelaksanaan praktek sunat perempuan ini. Sebagian besar mengatakan, bahwa sunat untuk perempuan ini ditujukan untuk “membersihkan” anak perempuan dari sipit setan yang akan mengarahkannya menjadi liar. Padahal belum ada bukti dari pernyataan tersebut. Terlebih, pelaksaannya yang berbeda2 dan bahkan membuat trauma bagi beberapa orang yang melakukannya. Dalam pelaksanaannya, ada yang langsung disunat ketika lahir, dan ada pula yang baru disunat menginjak usia belita atau lebih tua lagi. Perbedaan konsep dan kepercayaan tentang praktek sunat perempuan ini lah yang diangkat dalam film ini.

Di Indonesia, yang dikatakan sebagai wanita lajang adalah wanita yang belum/tidak menikah dan tidak melakukan hubungan seksual. Hal ini lah yang menjadi sebuah kerancuan ketika seorang akan memerikasakan kesehatan dirinya pada pihak obstetri dan ginekologi / SpOG (kebidanan dan kandungan). Seorang wanita lajang yang memerikasakan kesehatan alat reproduksinya sering kali terbentur persepsi moral yang dituduhkan oleh para obstetri dan ginekologi / SpOG (kebidanan dan kandungan). Seperti misalnya, pemeriksaan pups meer untuk mengecek saluran reproduksi pada wanita, apakah terdapat kelainan yang mungkin dapat mengakibatkan kanker sevics (kanker mulut rahim). Pada pemeriksaan pups meer ini, akan dimasukan sebuah alat pada vagina pasien. Untuk mengambil cairan pada rahim pasien. Dan dalam pelaksanaannya, tentunya pemasukan alat periksa ini kedalam vagina dapat mengakibatkan robeknya selaput dara pada seorang wanita yang belum pernah melaukan hubungan seks. Hal ini lah yang dijadikan alibi bagi para obstetri dan ginekologi / SpOG (kebidanan dan kandungan) untuk tidak melakukan pups meer pada wanita lajang. Padahal jika ditilik dari gaya hidup masyarakat kita terlebih di kota besar, banyak wanita lajang yang sudah pernah melakukan hubungan seks pra nikah. Dan tentunya mereka juga ini juga memiliki resiko untuk terkena kanker servics. Dan statusnya sebagai “nona” (belum menikah) membuatnya menjadi seakan2 langsung divonis bersalah olah obstetri dan ginekologi / SpOG (kebidanan dan kandungan), karena mereka ini telah melakukan hubungan seks pra nikah. Masalah ini lah yang diangkat dalam film ketiga ini yang berjudul “Nona Nyonya?”.

Dan sebagai film terakhir adalah film berjudul “Ragat’e Anak”. Fim ini mengisahkan tentang 2 orang PSK di kompleks pekuburan cina di daerah Gunung Bolo, Tulungagung yang berjuang menghidupi dirinya dan keluarganya. Setiap pagi hingga menjelang sore, mereka bekerja sebagai pemecah batu dan pada malam harinya mereka bekerja sebagai PSK. Tempat beroperasinya yang adalah di kompleks pekuburan cina, membuat tarifnya menjadi amat murah. Selain itu, adanya preman2 di kawasan kompleks pekuburan ini juga menambah sulit kehidupan mereka. Continue reading “Review film “Pertaruhan””

mee and my birthday…

Tanggal 1 April yang lalu adalah hari ulang tahun saya yang ke 23… *umm… belum terlalu tua juga kan ya??* Tidak ada pesta atau perayaan sekali pun di ulang tahun saya kali ini. Tidak ada acara makan bersama dengan menu yang special. Tidak ada tiupan lilin di atas kur tart, bahkan tidak ada kue sama sekali.

Padahal, kalau mau mengikuti kebiasaan di tahun2 sebelumnya, selalu ada perayaan di saat ulang tahun saya… Paling enggak, biasanya saya mengundang teman2 terdekat saya untuk sengaja datang ke rumah saya untuk makan2 dan potong kue tart. Atau acara traktiran di luar rumah. Bukan, bukan karena taun ini saya pelit… saya jamin, bukan itu alasannya! Saya cuman merasa udah bukan waktunya lagi buat saya merayakan ulang tahun saya dengan cara2 seperti itu.

Rasanya saya malu, dengan umur saya yang ke 23 ini, terlalu banyak target hidup saya yang meleset. *bukan, bukan tentang nikah… itu mah, targetnya masih belum taun ini juga* Saya sendiri merasa sedikit kecewa dengan diri saya… Saya rasa, wajar kan kalo saya kecewa? Yah, mungkin emang enggak harus same segininya juga kali ya… tapi yah, mau gimana lagi emang itu yang saya rasakan di ulang tahun saya kali ini. Tapi bukan berarti saya enggak bahagia sama sekali…

Saya merasa senang, masih diberi kesempatan untuk hidup oleh Allah. Masih punya kesempatan untuk mengejar kembali target hidup saya yang telah meleset. Juga kesempatan untuk merasakan kehidupan saya di 23 tahun ini… Dan sungguh, tidak ada penyesalan untuk kehidupan tersebut. Saya mensyukuri segala yang telah, sedang dan akan terjadi di kehidupan saya ini.

Saya juga merasa senang sekali, karena masih ada teman, sahabat dan tentunya keluarga yang mendoakan dan mengucapkan selamat ulang tahun *dengan atau tanpa melihatnya di reminder di handphone-nya atau jejaring sosial yang saya ikuti* Bahkan sampai ada beberapa sahabat yang sengaja datangi saya di rumah. Dan ada pula yang secara khusus menelpon dari luar negeri. Saya ucapkan terima kasih banyak untuk semua itu. It’s mean a lot for me, guys… 😀