[Movie Review] Sunny (써니) – 2011

 

Country: South Korea
Production Company: Toilet Pictures/ Aloha Pictures
Genre: Drama
Director: Kang Hyung Chul
Starring: Yu Ho Jeong, Jin Hee Kyung, Ko Su Hee, Hong Jin Hee, Lee Yeon Kyung, Kim Seon Kyeong, Shim Eun Kyeong, Kang So Ra, Kim Min Young, Park Jin Joo, Nam Bo Ra, Kim Bo Mi, Min Hyo Rin, Kim Shi Hoo
Length: 124 mins
Date of release: 4th May, 2011 Continue reading “[Movie Review] Sunny (써니) – 2011”

Review Film : Romantic Island (korean movie)

kalo sebelum2nya saya hanya me-review film2 yang saya tonton di bioskop, nah kali ini gilirannya film yang saya tonton di DVD aja dulu ya… 😀 *lagi jarang nonton di bioskop soalnya* film ini bukan film baru sih, di produksinya tahun 2008.

Film ini bercerita tentang 3 pasangan kekasih yang berbeda. Ga ada hubungan secara langsung sih satu sama lainnya, mereka cuman terhubung karena sama2 sedang berlibur di sebuah pulau yang indah di Philippine yang namanya Barocay.

Pasangan pertama adalah suami istri yang telah lama membina rumah tangga, Park Joong-Sik (Lee Moon-sik) dan istrinya , Lee Yoon-Suk (Lee Il-hwa). Suatu hari Joong-Sik mengajak istrinya Yoon-Suk untuk berlibur ke Philippine. Yoon-Suk merasa aneh karena tiba2 suaminya mengajaknya berlibur ke luar negeri, padahal jangankan berlibur ke luar negeri, berlibur ke pantai yang masih berada di sekitar Korea saja tidak pernah. Namun melihat bahwa ajakan Joong-Sik itu serius, akhirnya Yoon-Suk menerimanya tanpa kecurigaan apapun. Niat sebenarnya dari Joong-Sik mengajak istrinya berlibur ke Philippine adalah untuk membuat kenangan sebelum akhirnya ia akan mengakhiri hidupnya di Philippine. Joong-Sik berniat untuk bunuh diri, karena dirinya divonis menderita tumor otak yang kesempatan hidupnya hanya 50% bahkan meskipun ia menjalani operasi yang pastinya menelan biaya yang tidak sedikit, sedangkan toko miliknya juga sedang mengalami kemunduran.

Pasangan ke dua adalah Choi Soo-Jin (Lee Soo-kyeong) dan Kang Jae-hyeok (Lee Seon-gyoon). Choi Soo-Jin adalah seorang karyawati biasa yang muak dan bosan dengan kehidupan sehari-harinya, dengan bosnya yg bertempramen tinggi dan keluarganya yg terkesan tidak peduli dengannya. Soo-Jin pergi ke Philippine untuk berlibur, untuk sejenak meninggalkan kehidupannya di Korea. Sedangkan Kang Jae-hyeok adalah seorang vice president dari sebuah perusahaan besar di Korea. Jae-hyeok adalah seorang workaholic, saking workaholicnya ia sampai lupa dengan hari ulang tahunnya sendiri dan juga tidak memiliki kehidupan sosial selain kantornya. Suatu hari Jae-hyeok mendengar kabar bahwa ayahnya yang telah meninggalkannya dari sejak ia masih kecil ke Philippine, meninggal dunia. Takdir akhirnya mempertemukan mereka beberpa kali di tempat berbeda, sampai akhirnya Jae-hyoek meminta pertolongan Soo-jin untuk menemui adiknya yang tinggal di Philippine. Dari sini lah awal kisah cinta mereka dimulai, sampai membuat kenangan di Barocay, The Romantic Island…

Pasangan yang terakhir adalah Lee Jeong-hwan (Lee Min-ki) dan Yoo Ga-yeong (Yoo Jin). Jeong-hwan adalah seorang pecundang lulusan sastra inggris namun sayangnya kurang pandai berbahasa inggris.  Kedatangannya ke Philipina karena mendapatkan tiket gratis dari temannya. Sedangkan Ga-yoeng dalah seorang penyanyi top di Korea yang tertekan akan kesibuknya di dunia show biz  yang sarat dengan tekanan dan gossip dari sana sini. Ga-yeong ‘kabur’ ke Philippine sekedar untuk rehat sejenak dari bebannya tersebut. Mereka pertama bertemu di bandara, saat Ga-yoeng meminjam hanphone milik Jeong-hwan untuk menelpon managernya di Korea. Setelah sempat terlunta-lunta di Philippine karena tidak mendapat penginapan dan ditipu oleh money changer gadungan, akhirnya dengan bantuan dari teman Jeong-hwan yg tinggal di Philippine, Jeong-hwan dan Ga-yeong dapat menikmati linuran mereka di Barocay, The Romantic Island…

Di Barocay akhirnya Park Joong-Sik menberitahu istrinya perihal tumor yang dideritanya dan memutuskan untuk mau dioprasi, namun sayangnya pada saat itu ia terlanjur telah membayar pembunuh bayaran untuk membunuhnya, sebagai realisasi dari niat awalnya berlibur ke Philippine, yaitu bunuh diri. Hal ini lah yang menjadi twist yang menarik dari film ini. Karena pada fotokopi passport yang diberikan pihak penyedia pembunuh bayaran kepada sang pembunuh terdapat fotokopi passport dari Kang Jae-hyeok dan Lee Jeong-hwan. Penonton akan dibawa untuk menerka-nerka siapa yang akan dibunuh oleh sang pembunuh bayaran, karena sang pembunuh bayaran di sini hanyalah 2 orang anak kecil, yang bahkan tidak mengetahui pasti orang yang mana yg harus mereka bunuh.

Inti dari cerita film ini sebenarnya adalah “Love is about Trust, Fairness and accepting” *halah, sok ngingris aje, mending bener!* Alur cerita yang mengalir ringan dan kekuatan cerita yang menarik (baik dari unsur dramanya juga twistnya yg bikin penonton penasaran), dipadu dengan sajian pemandangan pulau Barocay yang indah serta music scoring  yang pas dan tepat adalah kekuatan dari film ini. Highly recommended deh buat para penyuka film drama romantis 😀

Review : Garuda di Dadaku

Ahay… saya balik lagi… kali ini dengan review film lagi… 😀

Kali ini karena menyambut liburan anak sekolah, saya me-review film Indonesia yang cocok buat ditonton anak-anak sekolah yang lagi liburan. Film liburan yang cocok untuk keluarga…

garuda

Film Garuda di Dadaku bercerita tentang perjuangan Bayu, seorang anak laki-laki berumur 13 tahun yang tergila-gila banget sama sepak bola. Meski pun sudah dilarang keras oleh kakeknya buat maen sepak bola, bayu tetap sering curi-curi waktu untuk kabur dan maen sepak bola di lapangan bulutangkis dekat rumahnya. Ga heran sih kalo Bayu tumbuh menjadi anak yang sangat suka bermain sepak bola, Ayah Bayu sendiri adalah mantan pemain sepak bola.

Bayu mempunyai seorang sahabat, yang sama-sama tergila-gila dengan sepak bola, yaitu Heri. Sayangnya Heri memiliki keterbatasan fisik, sehingga ia tidak dapat secara langsung bermain sepak bola, tapi ia sangat jago dalam taktik permainan. Heri adalah seorang sahabat yang sangat mendukung keinginan Bayu untuk menjadi seorang pemain sepak bola, terlebih untuk masuk ke dalam tim nasional sepak bola Indonesia U-13, dan mengenakan seragam tim-nas dengan lambang garuda di dada sebelah kiri.

Cerita yang disajikan sebenarnya sederhana saja… tapi menarik dan memotivasi. Ada “sesuatu pesan” yang akan penonton bawa pulang setelah menontonnya… terutama untuk penonton anak-anak usia sekolah *sebenarnya buat yang dewasa-nya juga bisa sih*. Cerita yang sederhana, namun karena penggarapannya baik sehingga menjadikan film ini sangat menarik untuk disimak. Dengan naskah skenario yang bagus diikuti oleh akting yang bagus pula dari para pemainya, membuat film ini terasa lengkap. Ada tawa lucu, drama mengharukan serta aksi permainan sepak bola yang menarik.

Dari segi gambar juga OK, penonton banyak disuguhi aksi permainan sepak bola yang ciamik. Untuk adegan lain selain aksi sepak bola, pengambilan gambar juga cukup baik… yah, paling tidak saya ga melihat ada adegan yang digambarkan terlalu aneh.

Untuk kekurangan, buat saya sih cuman dari segi fashion-nya Bayu… dari awal film, Bayu selalu dikasih pakaian yang terlalu kebesaran… dan bikin badannya bayu yang kecil itu semaikn terlihat kecil aja. Ya, ngerti sih namanya maen sepak bola ga mungkin pake baju yang terlalu nge-pas juga… tapi ya jangan sampe yang terlalu longgar juga kan? Rada ganggu aja gitu litany… 😀 *saya doang yang riwil ini aja sih keknya yang merasa terganggu dengan hal ini* Baju yang paling “ganggu” adalah seragam sekolah Bayu yang amat-sangat-kegedean-banget-sekali!

But over all, film ini memang bagus banget! Kalo saya boleh kasih bintang untuk me-rating film, film Garuda di Dadaku ini saya kasih 4 ½ bintang dari 5 bintang yang biasanya tersedia. Yang pasti, film ini jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhh lebih bagus dari film KCB yang sebelumnya udah saya saksikan juga.

Review film “Pertaruhan”

pertaruhanHari minggu kemarin, saya dan beberapa teman dari blogor mendapat kesempatan untuk menonton film dokumenter hasil kerja sama antara Kalyana Shira Films dengan Kalyana Shira Fondation, yang berjudul Pertarungan. Film ini adalah kumpulan dari 4 film dokumenter yang bercerita tentang perempuan dan kontroversi tentang tubuh perempuan.
Film yang pertama yang berjudul “Mengusahakan Cinta” bercerita tentang kisah 2 Tenaga Kerja Wanita asal Indonesia yang bekerja di Hongkong. Mereka memilih untuk menjadi buruh migran di Hongkong, karena mereka merasa pendapatan yang mereka dapatkan dengan menjadi buruh migran di negeri orang jauh lebih besar dari pada mereka bekerja di Indonesia. Kisah pertama adalah tentang Ruwati, seoarang pembantu rumah tangga. Ia memiliki tumor di dalam rahimnya, yang mengakibatkan ia harus menjalani operasi melalui vaginanya, untuk mengambil tumor tersebut, tanpa perlu mengangkat rahimnya. Karena sebenarnya ia masih gadis. Namun ternyata kekasihnya di Indonesia malah mempertanyakan kegadisannya dengan adanya hal ini.
Kisah ke dua adalah tentang Rian. Seorang pengasuh dari seorang wanita jompo di Hongkong. Ia menjadi Lesbian setelah mengalami kegagalan dalam rumah tangganya. Dan mendapat siksaan batin serta moral dari mantan suaminya. Ia nyaman sebagai lesbian di Hongkong, namun ia merasa takut untuk membawa hubungan lesbiannya tersebut ke Indonesia.

Film kedua berjudul “Untuk Apa?” bercerita tentang praktek sunat pada perempuan di Indonesia. Terjadi perbedaan cara dan konteks dalam pelaksanaan praktek sunat perempuan ini. Sebagian besar mengatakan, bahwa sunat untuk perempuan ini ditujukan untuk “membersihkan” anak perempuan dari sipit setan yang akan mengarahkannya menjadi liar. Padahal belum ada bukti dari pernyataan tersebut. Terlebih, pelaksaannya yang berbeda2 dan bahkan membuat trauma bagi beberapa orang yang melakukannya. Dalam pelaksanaannya, ada yang langsung disunat ketika lahir, dan ada pula yang baru disunat menginjak usia belita atau lebih tua lagi. Perbedaan konsep dan kepercayaan tentang praktek sunat perempuan ini lah yang diangkat dalam film ini.

Di Indonesia, yang dikatakan sebagai wanita lajang adalah wanita yang belum/tidak menikah dan tidak melakukan hubungan seksual. Hal ini lah yang menjadi sebuah kerancuan ketika seorang akan memerikasakan kesehatan dirinya pada pihak obstetri dan ginekologi / SpOG (kebidanan dan kandungan). Seorang wanita lajang yang memerikasakan kesehatan alat reproduksinya sering kali terbentur persepsi moral yang dituduhkan oleh para obstetri dan ginekologi / SpOG (kebidanan dan kandungan). Seperti misalnya, pemeriksaan pups meer untuk mengecek saluran reproduksi pada wanita, apakah terdapat kelainan yang mungkin dapat mengakibatkan kanker sevics (kanker mulut rahim). Pada pemeriksaan pups meer ini, akan dimasukan sebuah alat pada vagina pasien. Untuk mengambil cairan pada rahim pasien. Dan dalam pelaksanaannya, tentunya pemasukan alat periksa ini kedalam vagina dapat mengakibatkan robeknya selaput dara pada seorang wanita yang belum pernah melaukan hubungan seks. Hal ini lah yang dijadikan alibi bagi para obstetri dan ginekologi / SpOG (kebidanan dan kandungan) untuk tidak melakukan pups meer pada wanita lajang. Padahal jika ditilik dari gaya hidup masyarakat kita terlebih di kota besar, banyak wanita lajang yang sudah pernah melakukan hubungan seks pra nikah. Dan tentunya mereka juga ini juga memiliki resiko untuk terkena kanker servics. Dan statusnya sebagai “nona” (belum menikah) membuatnya menjadi seakan2 langsung divonis bersalah olah obstetri dan ginekologi / SpOG (kebidanan dan kandungan), karena mereka ini telah melakukan hubungan seks pra nikah. Masalah ini lah yang diangkat dalam film ketiga ini yang berjudul “Nona Nyonya?”.

Dan sebagai film terakhir adalah film berjudul “Ragat’e Anak”. Fim ini mengisahkan tentang 2 orang PSK di kompleks pekuburan cina di daerah Gunung Bolo, Tulungagung yang berjuang menghidupi dirinya dan keluarganya. Setiap pagi hingga menjelang sore, mereka bekerja sebagai pemecah batu dan pada malam harinya mereka bekerja sebagai PSK. Tempat beroperasinya yang adalah di kompleks pekuburan cina, membuat tarifnya menjadi amat murah. Selain itu, adanya preman2 di kawasan kompleks pekuburan ini juga menambah sulit kehidupan mereka. Continue reading “Review film “Pertaruhan””

An affair to forget : mencintai saja tak pernah cukup

an affair to forgetHehehe… gw balik lagi hari ini… kali ini bukan mau curhat… tapi mau meresensi *jyah, siape elo sok2an bikin resensi* sebuah novel yang baru aja gw beli dalam rangka buang uang di Matahari dan Gramedia beberapa hari yang lalu…

Pertama2 sebelum meresensi bukunya, gw mau cerita dulu nih… prosesi buang2 uang gw ini… *sok kaya banget soh, segala uang dibuang2* jadi gini loh, sepulang kerja, gw tuh niat mau beli baju di Matahari, karena paginya, gw baca di Koran bahwa matahari lagi diskon 50% + 20% sebagai… yah, karena emang kebetulan pengan beli baju baru buat acara piknik gw dengan beberapa temen kuliah gw… sesampainya di Mall, gw nggak langsung menuju Matahari… tapi kepeikiran pengan liat2 komik dulu di Gramedia…

Sampe di gramedia, yang pertama menarik perhatian gw adalah beberapa tumpukan novel yang diatasnya bertuliskan diskon 30%… hmm… terus gw ppikir, ah liat2 novel dulu deh… kali aja nemu ide seru buat bahan tulisan gw… dan yang pertama gw liat adalah novel “an affair to forget” ini… dari cover depan, buku ini terliaht cukup menarik dengan menampilkan gambar sebuah tangan yang sedang menyulutkan api pada sebentuk lilin yang terlihat seperti es… yang didalamnya ada sebentuk hati dengan tulisan judul novel ini di dalamnya… terus gw baca tag line-nya… “mencintai tak pernah cukup”, hmm… quite interesting, huh… maka gw pun bergerak untuk mebalik novel tersebut dan melihat harganya *sesuai dengan yang dipertanyakan kang baban dalam postingannya yg ini*lalu membaca sinopsisnya… disana digambarkan sekelumit tentang novel ini… yah, intinya disitu tertulis bahwa novel ini, bercerita tentang seorang wanita yang menghadapai perselingkuhan suaminya dengan sikap yang berbeda… nggak biasa… nggak kayak doktrin2 di sinetron Indonesia atau bahkan film holiwood sekali pun… hwiiii… cukup menarik bukan?? Tapi gw terus tersadar niat awal gw ke Gramedia ini adalah bukan buat beli novel, tapi buat liat2 komik *meskipun sedikit merasa tertarik kepengen beli juga setelah liat synopsis novel itu, apa lagi setelah liat tulisan diskon 30% diatasnya*

Maka gw pun segera menuku rak komik buat sedikit liat2 komik2 disana… belum lagi melihat dengan seksama komik2 yang ada di sana… gw ternyata kepikiran terus sama novel yang gw liat tadi itu… lalu gw pun balik ke tumpukan nobel tersebut dan berkali2 baca synopsisnya untuk meyakinkan diri gw, bahwa novel ini beneran layak beli kok… sambil beberapa kali melihat beberapa novel lain yang ternyata malah semakin menjebak gw untuk menghabiskan beberapa lembar uang gw untuk membeli mereka… ah… emang nggak bisa nolak, kalo udah hati bicara mah… dan gw pun segera membayar novel2 yang gw beli itu dan segera menuju Matahari, sebelum gw lebih tertarik dengan buku2 disana… duh, bisa abis semua duit gw… bisa gagal rencana beli baju baru buat piknik nih…

Di matahari, gw sebenernya pertama tertarik sama sebuah atasan dengan model yang lucu dari kain batik… warna hijau dan orange… yup, 2 warna favorite gw… tapi sayangnya nggak ada yang ukuran gw… yang tersedia tinggal ukuran untuk yang memiliki banan agak berisi… buakan kerempeng kayak gw… hmph… nyebelin… maka gw pun segera berlalu dari atasan batik itu dan nyari baju lain yang ada ukuran gw-nya… yah, akhirnya gw menemukan juga sih beberapa baju yang gw suka… dan akhirnya gw beli… meskipun dalam hati masih kepikiran terus sama si atasan batik yang gw liat pertama itu…

Besoknya, karena ada acara piknik sama temen gw itu, jadi gw nggak sempet nengok buku2 yang gw beli sebelumnya itu… baru besoknya lagi (hari minggu) gw baru bisa nengokin buku2 yang baru gw beli itu dan gw pilih2 mana yang akan gw baca duluan… setelah memilah-milah, akhirnya gw putusin buat baca novel “an affair to forget” duluan… dan ternyata ini bukan keputusan yang salah… sama sekali bukan…

Ah, mari kita mulai meresensi novel dengan judul “an affair to forget” ini… Ok, mulai dari awal… buku ini punya alur yang cukup lamban… kalo nggak dibikin penasaran sama synopsisnya… mungkin gw udah akan meninggalkan buku ini… saking bosennya menerima foreplay yang terlalu lamban… yang dijadikan penutur oleh penulis novel ini adalah, seorang pria yang adalah sahabat dari si pemeran utama (Anna). Dari sini aja, gw udah cukup tertarik… karena persepsi gw, berarti dari novel ini, kita bisa liat pandangan seorang laki-laki dalam menanggapi sebuah perselingkuhan dari laki-laki lain… yah, biasanya kan kalo novel yang mengangkat isu tentang perselingkuhan gini, yang disajikan adalah sudut pandang perasaan si wanita… sebagai korbannnya… gimana, dari sini aja, udah cukup menarik kan??

Yap… nah, dari bab 8, kita baru disajikan dengan rencana2 Anna untuk mendapatkan suaminya kembali seutuhnya dari perselingkuhan ini… caranya berbeda dengan yang biasa dilakukan orang2… Anna menjadikan selingkuhan suaminya ini sebagai teman, bahkan sahabat… hmmm… hebat ya, bisa nahan emosinya… padahal kalo diliat dari sifat2 yang digambarkan di awal… Anna ini adalah tipe orang yang responsive aktif… yang menggebu2 dalam menghadapi hidupnya…

Beberapa kali, kita akan disajikan adengan yang agak vulgar (menerut gw), yang sepertinya ini jadi bumbu wajib buat penulis novel seperti ini yang berjenis kelamin laki-laki (kayak Andre Aksana, atau Remmy Silado)… tapi tenang aja… semua masih in context kok… jadi penambahan adengan2 vulgar tersebut nggak membuat novel ini menjadi seperti buku stensilan apa lagi bokep… justru malah memperkuat pernyataan2 cinta di novel ini… (meskipun gw sebenernya nggak setuju dengan pernyataan cinta model begini… but just be realistic… toh hal seperti ini emang beneran ada di sekitar kita…)

Setelah bab 8 dimana mulai diceritakan langkah2 Anna untuk merebut kembali suaminya secara utuh, alur cerita menjadi mulai emang dibaca dan tidak lagi membosankan… bahkan justru menghanyutkan… membuat penasaran tanpa menjadi terburu2 dalam penyampaiannya… Pas lah… beberapa kali kita dibuat bingung oleh Anna dengan sikapanya… dan bertanya2, selanjutnya apa yang akan Anna lakukan… sampai di puncak klimaks sampai akhirnya…

Yang juga menarik dari novel ini tentunya adalah sikap Anna… yang kadang terlihat protagonist walau tidak digambarkan terlalu mellow, apa lagi mehek-mehek… dia justru digambarkan sebagai wanita yang tegar dan mandiri, meskipun disisi lain… masih tetep digambarkan sangat butuh pria… tetep sesuai kodrat kan? Tapi meskipun diletakan sebagai tokoh protagonist (lebih2 dia adalah korban disini) dia juga beberapa kali terlihat memiliki sifat antagonis… dengan segala ego dan kekerasan hatinya… tapi masih manusiawi sih… justru jadi nggak manusiawi kan kalo dia jadi terlalu protagonist atau bahkan jadi terlihat seperti malaikat…

Ending yang disuguhkan juga ending yang tuntas… yang tidak menggantung sehingga membuat pembacanya masih penasaran, atau malah menebak2 sendiri…

Oh iya, ada lagi yang menarik… si penuturdalam novel ini digambarkan sepertinya adalah bener2 penulisnya (Armaya Jr). karena entah kenapa, setelah melihat biografi penulisnya di halaman belakang, gw seperti melihat gambaran dari si pria penutur novel ini yang adalah sahabat Anna… terlebih lagi di bab terakhir tertulis percakapan Anna dengan si penutur, yang berisi permintaan izin oleh si penutur ini, untuk me-novel-kan kisah hidup Anna ini…

Hwiii… panjang juga ya… mudah2an nggak sampe bikin bosen yang baca postingan ini ya… hehehe… sekian… *sebenernya keknya kepanjangan cerita prosesi pembelian novelnya nih, dari pada resensi novelnya sendiri*